Sukses

Ira Koesno, Presenter Cantik Pemandu Debat Pilkada DKI Besok

Liputan6.com, Jakarta - Presenter Ira Koesno dipercaya menjadi moderator debat pertama calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta memilih Ira Koesno karena ia dinilai berpengalaman.

Perempuan bernama lengkap Dwi Noviratri ini meniti karir pertamanya sebagai presenter di stasiun televisi SCTV. Gaya bicaranya yang khas, lugas, dan kritis melambungkan namanya.

Seperti dikutip dari buku Di Balik Layar Liputan 6, menjadi pembawa berita bukanlah cita-cita perempuan kelahiran Jakarta tersebut. Sarjana akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini bercita-cita menjadi auditor.

Pada 1994, Ira Koesno meniti karier sesuai bidang ilmu yang dikuasainya: akuntansi. Dia bekerja di Auditor KPMG Hanadi Sujandro. Ia bertanggung jawab untuk audit pos neraca, verifikasi, konfirmasi, dan stok opname.

Cita-cita pun terangkai dalam pikirannya. Ketika itu, kata Ira, "Saya ingin melanjutkan pendidikan S2. Jurusan yang akan saya ambil tentunya harus sesuai dengan jalur karier. Karena saya ingin jadi auditor, maka saya harus ambil jurusan keuangan lagi".

Namun, Ira menyadari masih ada passion dalam dirinya yang belum dikembangkan, yaitu menulis. Rupanya, minatnya di bidang menulis menemui jalan, saat ia membaca iklan di surat kabar:

"Dicari, reporter untuk televisi swasta". Ia menganggap ini kesempatan untuk mengembangkan minatnya di bidang menulis.

Jalan hidup Ira Koesno pun berubah setelah melamar dan diterima bekerja di Liputan 6 SCTV. Cita-citanya menggeluti karier di bidang finansial ditinggalkan. Ia memasuki dunia baru: jurnalisme televisi.

Bungsu dari dua bersaudara pasangan Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami ini beruntung karena menjalani profesi yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

"Saya punya dua dunia yang saya senangi, pertama finansial dan yang kedua tulis menulis. Setelah mencoba menjadi akuntan, saya ingin mencoba jadi wartawan," tutur Ira seperti dikutip dalam laman Biografi Tokoh Indonesia.

Melambung karena "Cabut Gigi"

Sebagai seorang jurnalis senior, Ira Koesno telah melalui sejumlah peristiwa. Mulai dari meliput langsung peristiwa darurat militer di Aceh, hingga pengalaman yang sulit ia lupakan yakni ketika ia mewawancarai mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja, pada 1998.

Sejatinya, wawancara itu membahas usulan Ketua MPR/DPR Harmoko agar dilakukan reshuffle kabinet pada pemerintahan Soeharto. Namun, saat wawancara, Sarwono mengucapkan istilah "cabut gigi" yang merupakan metafora dari permintaan agar Presiden Soeharto lengser. Ini adalah pernyataan yang terlampau keras dan berani di masa Orde Baru.

Benar saja, wawancara itu menimbulkan ketersinggungan penguasa. Ada tiga menteri menelepon redaksi. Liputan 6 pun terancam ditutup.

Pada momen-momen ini, Ira teringat ucapan rekannya sesama jurnalis Liputan 6, Apni Jaya Putra, "Ira, kalau ternyata reformasi ini berhasil, kamu jadi bintang. Tapi kalau tidak berhasil, matilah kita semua."

Namun, ketika reformasi berhasil, Ira menjadi bintang. Wawancara "cabut gigi" masih banyak yang diingat hingga kini.

SCTV-lah yang berjasa membesarkan namanya. Peraih Master of Arts bidang film dan produksi televisi (2000) dari Universitas Bristol dan Master of Arts bidang jurnalistik internasional (2001) dari Universitas Westminster ini mulai diberi kepercayaan besar.

Ia tidak lagi hanya membawakan program berita, tapi juga didaulat menjadi Asisten Produser Liputan 6 Siang dan produser investigasi "SIGI".

Debat Presiden 2004 merupakan acara terakhir yang dipandunya sebelum akhirnya ia memutuskan mundur dari dunia pertelevisian di tahun 2004 karena ingin mengembangkan usahanya di bidang jasa strategi komunikasi terpadu, bernama Ira Koesno Communications (IKComm).

IKComm bergerak di bidang jasa media dan PR (Public Relation) konsultan, pelatihan media dan PR, kampanye publik, menajemen isu, dan hubungan dengan pemerintah.

Nama besarnya sebagai seorang presenter rupanya belumlah pudar. Hingga akhirnya dia ditunjuk memandu acara debat calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta putaran pertama.