Sukses

Kronologi Kericuhan di TPS 18 Petojo Jakpus Versi Warga

Liputan6.com, Jakarta - Pencoblosan Pilkada DKI 2017 di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 18 kawasan Petojo Utara, Jakarta Pusat, pada 15 Februari kemarin sempat diwarnai kericuhan. Sejumlah warga yang melihat pun mengaku geram dengan tindakan oknum yang mencederai jalannya pesta demokrasi itu.

Salah satu warga yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 18 mengatakan, kejadian di TPS 18 itu sempat membuat warga geram. Pencoblosan Pilkada DKI 2017 di wilayah itu pun terhenti beberapa saat.

"Jadi begini, ada orang kok kayak mau bikin kacau. Masuk ke lokasi TPS 18, ngakunya anggota DPRD. Kelihatannya kayak negur bawahannya. Dia nyuruh pakai seragam kotak-kotak, keras ngomongnya di TPS," tutur pria berusia 56 tahun yang enggan disebut namanya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jalan Semboja, Gambir, Petojo Utara, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Februari 2017.

Menurut dia, aksi keras dari yang bersangkutan itu sempat membuat emosi para pemilih di lokasi TPS 18. Terlebih, dia malah melawan saat ditegur oleh petugas KPPS dan pihak kepolisian yang berjaga.

"Sama pihak KPPS disuruh keluar. Tapi dia ngotot. Warga adu mulut sama bapak itu, tapi kayak nantangin jadi ya warga marah. Akhirnya pak polisi masuk dua orang terus enggak lama akhirnya dia mau pergi," ujar warga Petojo Binatu itu.

Menurut dia, selang satu jam setelah orang tersebut pergi, datang lagi sekelompok orang yang salah satunya mengaku sebagai keluarga dari bapak yang diusir itu.

"Datang lagi langsung mukul Pak RW. Waktu itu padahal Pak RW lagi ngobrol sama Pak Camat, terus ada polisi juga. Ya warga marah-lah. Dikejar-kejar yang mukul. Enggak tau lagi setelah itu saya," kata dia.

Warga lain yang mencoblos di TPS 19, Husein (70), menambahkan lokasi TPS 18 dan TPS 19 itu berdekatan. Dia sebagai mantan Ketua RT 5 RW 7 tiga periode itu turut memantau perkembangan kedua TPS itu.

"Saya dari jam 08.00 WIB pagi sampai 20.00 WIB malam di lokasi. Ada keributan itu saja yang aneh di TPS," ucap Husein.

Menurut dia, orang yang berlaku onar itu datang sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah diusir pergi, memang ada lagi yang datang berjumlah tiga orang.

"Mereka bawa dua motor. Saya bilang ke polisi, 'Pak kalau bisa dipinggirkan saja jangan sampai ada pukul-pukul'," ujar dia.

Setelah kejadian itu, pencoblosan di kedua TPS tersebut berlangsung lancar. Memang ada sejumlah warga yang datang untuk mendaftar karena tidak tercantum menjadi DPT Pilkada DKI 2017, tapi jumlahnya tidak banyak.

"Ada lima orang yang datang dengan bawa e-KTP dan KK. Tapi dari lima itu, empat bawa KK asli tapi satu orang fotokopian. Yang ditolak sama pihak KPPS ya yang fotokopian itu. Enggak boleh, harus asli," Husein menandaskan.