Sukses

Pengamat LIPI Sebut Isu SARA tak Pengaruhi Pilkada DKI 2017

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan isu SARA yang tumbuh subur di Pilkada DKI 2017 dikatakan Peneliti LIPI Situ Zuhro sebagai cerminan etika buruk. Menurut dia, Jakarta sebagai Ibu Kota seharusnya bisa dapat lebih mencontohkan pilkada yang lebih cerdas karena dihuni masyarakat yang teredukasi.

"Ini Ibu Kota, asumsinya dihuni oleh orang educated, sudah melek politik, sehingga itu yang harusnya dimunculkan para calon-calon tersebut, tidak perlu pakai SARA," kata dia di Jakarta Pusat, Jumat (17/3/2017).

Untuk putaran kedua Pilkada DKI 2017, ia menjelaskan, isu SARA tidak perlu 'digoreng' kembali. Hal ini didasarkan dari hasil putaran pertama yang tetap dimenangkan pasangan Ahok-Djarot, ketimbang dua rivalnya yang ada di jalur mayoritas.

"Terbukti di putaran pertama (Pilkada DKI) sara tidak pengaruh. Kalau pengaruh ya tidak pada yang pilih Ahok, karenanya ini tidak usah digoreng, fokus kita jadi habis di situ," tegas dia.

Lebih jauh, Siti melihat, kini ada budaya politik di Pilkada DKI 2017 yang hendak dibangun dengan nilai kemunduran. Demokrasi yang terus menggunakan isu SARA dikhawatirkan bisa membuat masyarakat jenuh dan bisa beranggapan demokrasi sudah tak lagi berarti.

"Kalau dilihat dari politik yang hendak dibangun dari nilai budaya di DKI mestinya tidak sperti ini, ini setback (mundur) bukan maju, patokannya mesti menang ini ya susah. Saya khawatir kalau demokrasi gini terus ada saatnya nanti akan bersama mengatakan cukuplah demokrasi karena rusuh, gaduh, banyak aksi SARA," tandas dia.

  • Pilkada DKI 2017 akan berlangsung pada Februari 2017 diikuti tiga calon gubernur Agus Yudhoyono, Anies Baswedan, dan Basuki T. Purnama
    Pilkada DKI 2017 akan berlangsung pada Februari 2017 diikuti tiga calon gubernur Agus Yudhoyono, Anies Baswedan, dan Basuki T. Purnama
    Pilkada DKI 2017
Artikel Selanjutnya
Tangis Nenek 80 Tahun Saat Peluk Erat Djarot Saiful Hidayat
Artikel Selanjutnya
Ahok Pakaikan Syal Kotak-Kotak ke Relawan Agus-Sylvi